03 November 2009

Climate Defender Camp

Greenpeace Bangun Pos di Hutan Tropis Indonesia untuk Mencegah Bencana Iklim
Taken from http://www.greenpeace.org/seasia/id/


Di seluruh dunia, hutan-hutan alami sedang dalam krisis. Tumbuhan dan binatang yang hidup didalamnya terancam punah. Dan banyak manusia dan kebudayaan yang menggantungkan hidupnya dari hutan juga sedang terancam. Tapi tidak semuanya merupakan kabar buruk. Masih ada harapan untuk menyelamatkan hutan-hutan ini dan menyelamatkan mereka yang hidup dari hutan.
Hutan purba dunia sangat beragam. Hutan-hutan ini meliputi hutan boreal—jenis hutan pinus yang ada di Amerika Utara, hutan hujan tropis, hutan sub tropis dan hutan magrove. Bersama, mereka menjaga sistem lingkungan yang penting bagi kehidupan di bumi. Mereka mempengaruhi cuaca dengan mengontrol curah hujan dan penguapan air dari tanah. Mereka membantu menstabilkan iklim dunia dengan menyimpan karbon dalam jumlah besar yang jika tidak tersimpan akan berkontribusi pada perubahan iklim.

Hutan-hutan purba ini adalah rumah bagi jutaan orang rimba yang untuk bertahan hidup bergantung dari hutan—baik secara fisik maupun spiritual.

Hutan-hutan ini juga merupakan rumah bagi duapertiga dari spesies tanaman dan binatang di dunia. Yang berarti ratusan ribu tanaman dan pohon yang berbeda jenis dan jutaan serangga—masa depan mereka juga tergantung pada hutan-hutan purba.

Hutan-hutan purba yang menakjubkan ini berada dalam ancaman. Di Brazil saja, lebih dari 87 kebudayaan manusia telah hilang; pada 10 hingga 20 tahun kedepan dunia nampaknya akan kehilangan ribuan spesies tanaman dan binatang. Tapi ada kesempatan terakhir untuk menyelamatkan hutan-hutan ini dan orang-orang serta spesies yang tergantung padanya.

Di Semenanjung Kampar/Riau, Indonesia — Greenpeace telah membangun pos di jantung hutan tropis Indonesia untuk menarik perhatian dunia akan besarnya peranan perusakan hutan terhadap perubahan iklim yang berbahaya, satu isu kritis yang harus dibahas pada Pertemuan Iklim PBB di Kopenhagen Desember mendatang.

Pada 26 Okt 2009, sekitar 200 penduduk lokal menyelenggarakan upacara selamat datang bagi para aktivis Greenpeace di lokasi pos yang diberi nama “Kamp Pelindung Iklim (Climate Defender Camp)”, yang dibangun di Semenanjung Kampar, Sumatra (1) yang keberadaannya sedang terancam. Hutan di Kampar berada di atas lahan gambut dalam yang menyimpan hingga 2 miliar ton karbon (2). Merupakan salah satu penyimpan karbon terbesar di dunia dan tempat yang sangat signifikan dalam pertahanan menghadapi perubahan iklim global (3).

Banyak hutan yang dahulu mengelilingi semenanjung telah hancur dan berganti menjadi perkebunan, sebagian besar adalah akasia dan kelapa sawit, yang produknya telah diekspor ke seluruh dunia untuk dijadikan bahan pembuatan coklat, pasta gigi, dan biofuel yang disebut-sebut “ramah iklim”.

“Kami mengambil posisi di garis depan kehancuran hutan dan iklim untuk memberi tahu para pemimpin dunia bahwa untuk menghindari bencana iklim mereka harus menghentikan deforestasi di sini dan sekarang,” tegas Bustar Maitar, Jurukampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara langsung dari lokasi.

“Pekan lalu para pemimpin ASEAN di Pertemuan ASEAN Summit ke-15 di Thailand telah mendeklarasikan komitmen untuk membuat sukses di Kopenhagen. Aksi global melawan perubahan iklim menuntut komitmen yang sama dari negara maju. Presiden Barack Obama dan para pemimpin Uni Eropa hanya punya waktu enam pekan untuk serius menyikapi perubahan iklim dengan mengeluarkan komitmen mengurangi emisi secara drastis baik dari penggunaan bahan bakar fosil maupun deforestasi. Artinya mereka harus menginvestasikan dana yang dibutuhkan untuk menghentikan perusakan hutan global,” imbuh Shailendra Yashwant, Direktur Kampanye Greenpeace Asia Tenggara.

Mengakhiri deforestasi global memerlukan investasi negara industri sebesar 30 miliar Euro (sekitar Rp42 triliun) pertahun untuk program perlindungan hutan, sekaligus komitmen Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono utuk mengakhiri perusakan hutan dan lahan gambut di Indonesia.

Secara global, jutaan hektar hutan dirusak setiap bulannya –atau area hutan seluas lapangan bola hancur setiap dua detik—menghasilkan emisi CO2 massal, deforestasi menjadi penyebab utama perubahan iklim. Itu artinya kita akan menghadapi kepunahan spesies massal, banjir, kekeringan dan kelaparan kecuali kita bisa berhenti merusak hutan di negara seperti Indonesia. Emisi dari deforestasi membawa Indonesia menjadi negara ketiga terbesar penghasil emisi, setelah China dan Amerika Serikat.

Greenpeace mendesak para pemimpin negara Uni Eropa, yang akan bertemu di Brussel pada 29 dan 30 Oktober ini, untuk berkomitmen menyetujui kesepakatan adil, ambisius dan mengikat di Kopenhagen. Untuk berperan menghentikan deforestasi mereka harus menyediakan uang di meja.

Saat sistem perlindungan hutan disiapkan, Greenpeace juga meminta Presiden Yudhoyono untuk membantu iklim mengambil nafas sejenak dengan cara segera melakukan moratorium (penghentian sementara) penebangan hutan dan lahan gambut.

Pada pertemuan iklim PBB di Bangkok baru-baru ini, SBY berjanji akan mengurangi emisi dari Indonesia hingga 41 persen jika ada dukungan dana internasional.

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan lihat:
www.greenpeace.or.id/pembelaiklim

No comments:

Post a Comment