22 March 2010

Belajar dari YMV

Cyberedhoy, Cipayung
22.03.10

Ini tulisan pertama hal religius di blog Gue, tentang seorang Santo pelindung Paroki Cilangkap yang susah banget dapet ijin bangun Gereja-nya dan tetap berusaha eksis lebih dari sepuluh tahun ini. Yup, moga2 cerita tentang St. Yohanes Maria Vianney bisa jadi pengharapan baru buat yang belum mengenal dia dan warga sekitar Cipayung - Cilangkap bisa benar2 mengamalkan UUD '45 pasal 29 dengan mendukung pembangunannya.


Pada hari Selasa sore, 9 Pebruari 1818, Antoine Givre, penggembala domba kecil di wilayah Dombes, telah mengalami perjumpaan yang tidak biasa. Dia bertemu dengan seorang imam di satu jalan dari Lyons, yang mendorong gerobak reot penuh timbunan berbagai barang. Imam itu menanyakan apakah masih jauh jalan menuju satu desa bernama Ars. Antoine menunjukkan kepadanya satu kota sederhana dibelakang mereka yang hilang ditelan kegelapan. Begitu kecil!” imam itu mengguman. Lalu dia berlutut ditanah yang dingin dan berdoa lama sekali, matanya tertuju pada rumah-rumah.

Ketika dia bangkit dan berangkat lagi dengan keretanya, anak itu menemaninya. Ketika mereka sampai didepan sebuah gereja yang sangat tua, imam itu berkata kepadanya: ”Terima kasih telah menunjukkan jalan menuju Ars…. aku akan menunjukkan kepadamu jalan menuju Surga".

Yohanes Maria Vianney dilahirkan di Dardilly dekat kota Lyon, Perancis, pada 8 Mei 1786, Putra Matias Vianney dan Maria Beluze, petani miskin yang beriman kuat. Sebagai anak petani, ia membantu orang tuanya menggembalakan domba dan bekerja di ladang. Itulah sebabnya ketika ia berusia 18 tahun dan ingin masuk biara untuk menjadi imam, ayahnya berkeberatan karena tenaganya dibutuhkan. Baru dua tahun kemudian sang ayah menyetujui maksudnya. Di usia 20 tahun, Yohanes belajar di bawah bimbingan Pastor Balley, seorang imam yang amat sabar. Sayang sekali, pelajaran bahasa Latin menjadi beban yang amat berat baginya. Menjadi patah semangat ia memutuskan untuk berjalan sejauh 60 mil menuju kapel St. Yohanes Fransiskus Regis, seorang kudus yang populer di Perancis. Ia mohon bantuan doa orang kudus tersebut, tetapi hasilnya sama saja, ia tetap tidak cemerlang dalam studi. Bedanya ialah ia tidak pernah merasa putus asa lagi sekarang.

Di seminari makin nyata bahwa belajar telah menjadi hambatan besar baginya. Usaha apapun takkan menghasilkan apa-apa dengan baik. Bukan tanpa air mata, tetapi juga bukan tanpa usaha. Dalam ujian terakhir, ia menjawab semua pertanyaan hanya berdasarkan pemikirannya yang sederhana, yang menurut dia benar dan baik. Lagipula ia telah memahami apa artinya menjadi imam dan kebaikan hatinya tak diragukan.
Setelah ditahbiskan menjadi imam, atasannya menempatkan dia di sebuah gereja kecil dan terpencil di Ars, agar jika ia berbuat kesalahan tidak akan diketahui banyak orang. Ars, dengan penduduk hanya 200 orang yang dilayani oleh Paroki Misèrieux, keuskupan Lyons, tidak menyadari datangnya imam baru mereka, Pastor Yohanes Maria Vianney. Saat pertama kali dia mempersembahkan misa, dia nyaris sendirian.

Pastor Vianney melaksanakan tugas imamatnya dengan doa, berpuasa dan melakukan silih yang berat. Setiap hari ia berlutut berdoa didepan altar, didepan umatnya. Umatnya yang datang satu persatu ingin melihat apa yang bisa dilakukan oleh pastor baru ini. Mereka melihat dia tetap dalam posisi itu, berlutut di depan altar berdoa. Ia selalu ada disana, pagi, siang, sore dan malam, Ia selalu ada dan siap melayani umatnya. Ia amat mencintai umatnya dan mau berbuat apa saja untuk mereka. Dan, dari waktu ke waktu Ars mulai berubah, banyak orang bertobat karena nasehat-nasehat rohani pastor Vianney. Kemudian, dari luar Ars banyak para pendosa dan peziarah datang, memohonkan doa dan sakramen pengampunan. Ia duduk di ruang pengakuan 12-16 jam sehari. Ia juga mengalami banyak gangguan setan yang ingin menghentikan karya pertobatannya di Ars. Ia juga pernah mengalami krisis dan ingin lari menyembunyikan diri di biara kontemplatif, tetapi selalu gagal dan dia tetap menjadi pastor di Ars selama 42 tahun.

Ars telah menjadi kota rekonsiliasi dengan Allah di Eropa: laki-laki dan perempuan dari segala penjuru di Eropa dan bagian dunia lain menuju ke Perancis karena mereka benar-benar percaya bahwa dikota kecil itu, doa dan penetensi di ruang pengakuan benar-benar serasa bercakap-cakap dengan Allah, Pastor Vianney telah mendengarkan pengakuan dan membimbing jiwa menjadi suci.

Peziarah untuk melihat dia telah mendunia, tiap tahun 400.000 orang atau mungkin lebih pergi ke Ars selama 30 tahun. Mereka orang-orang sederhana, orang ternama, negarawan, bahkan uskup. Setelah meninggalkan Ars mereka merasakan telah manjadi baru. Dan semua bila ditanya:”apa yang kamu lihat di Ars?” segera menjawab:”Aku menjumpai Allah pada orang ini”.

Di musim panas tahun 1859, Ars masih tetap dibanjiri peziarah. Pada tanggal 2 Agustus tahun itu, Pastor Vianney menerima komuni dan perminyakan dari seorang pastor pembantu dengan sederhana dan penuh kebahagiaan. Dia menghadap Allah pada sore hari tanggal 4 Agustus 1859.
Pada hari Pentakosta, tanggal 31 Mei 1925 Paus Pius XI mengangkat dia menjadi santo dan pada tanggal 23 April 1928, mengangkat dia sebagai pelindung pastor paroki.

Logika Allah : sesuatu yang kecil
Bocah miskin dari Dardilly, yang ditahbiskan dengan susah payah, dan ditugaskan di paroki terisolir agar bila berbuat kesalahan tidak banyak yang mengetahuinya; ternyata orang yang menyiapkan dirinya untuk mati setiap hari, karena logika yang aneh dari Allah yang memilih orang kecil. Orang ini telah menjadi guru dan model bahkan bagi seorang Paus yang duduk di kursi Petrus, yang mendapat inspirasi dari dia dan mengangkat dia melebihi semuanya diseluruh gereja.



Taken from http://relasi.me-indonesia.org/?p=432
Reference http://yesaya.indocell.net/id1056.htm
Download http://oaserohani.files.wordpress.com/2009/11/st-maria-vianney.pdf
Re-written by Edhoy
© 2010 Cyberedhoy Inc.

No comments:

Post a Comment