28 May 2010

Tentang Stres

Cyberedhoy, GBK
27.05.10

"Ed, loe udah jarang nulis artikel serius lagi yah? Tulis dong di blog elo..." Begitu kata seorang temen lama yang nota bene baru ketemu setelah 15 thn menghilang. Yup, obrol sejam di cafetaria tadi siang banyak yg kita bahas. Mulai isu stress, BBM, macet, politik sampe sesuatu yang menggelitik.hehe...

* Tentang Stress *

Pertama kita bahas kenapa cewek gampang stress, kebetulan temen gw itu psikolog. Jadi pernah ada hasil riset yang dilakukan oleh Naomi G.Swanson, peneliti dari National Institute for Occupational Safety and Health, 60% wanita bekerja di Amerika Serikat mengaku penyebab stres nomor satu mereka adalah pekerjaan.

Dia sih berpendapat, "pada wanita bekerja, tingkat stres lebih tinggi dibandingkan dengan wanita dalam masyarakat, di mana wanita bekerja juga harus memikirkan urusan keluarga dan anak-anak, ada tuntutan wanita harus menjadi supermom. Itu yang membuat wanita lebih rentan stres ketimbang pria.”

Dr. Esther Sternberg dalam bukunya yang berjudul The Balance Within: The Science Connecting Health and Emotions, menulis dampak stres tidak hanya terkait dengan gangguan kejiwaan dan emosi saja. Dia menemukan, stres juga berdampak pada kesehatan fisik. Stres memicu tekanan darah, meningkatkan kadar adrenalin dalam aliran darah, penggunaan energi dan reaksi tubuh mencapai titik tertinggi.

Ada baiknya kenali rambu-rambu ketika stres masuk pada zona yang patut diwaspadai.
#1 gejala psikologis, adanya perasaan frustrasi, lekas marah, murung, kecewa, dan perasaan tidak berdaya.
#2 gejala fisik, seperti sakit kepala, tanda psikosomatis seperti mual dan maag, serta tanda fisiologis, seperti tekanan darah yang tinggi, jantung yang berdebar-debar, dan tingginya kadar kolesterol.
#3 gejala perilaku, ditandai oleh berkurangnya produktivitas kerja serta perilaku berlebihan, seperti makan berlebihan, tidur berlebihan, dan sebagainya.
#4 gejala sosial, ditandai dengan melakukan isolasi, baik terhadap anggota keluarga maupun masyarakat.
#5 gejala sikap, ditandai oleh adanya sikap negatif, pesimistis sinisme, dan apatis.

Tapi tak perlu risau pada serangan stres, hingga menghindari tantangan atau pekerjaan. Asal bisa mengelola emosi dengan baik, memiliki penyaluran yang positif dan hidup seimbang, stres bukan lagi momok yang harus ditakuti. Kalau stres sudah menghampiri, cobalah untuk melihat stres sebagai sesuatu yang dapat diatasi daripada sesuatu yang menguasai diri. kuncinya adalah hidup seimbang dan sesekali memberi waktu untuk diri sendiri.

Orang yang bisa memberdayakan diri, akan bisa mengelola emosinya secara cerdas. Dia tidak akan mengalami disorientasi, bimbang tidak tahu apa yang harus dilakukan, atau yang tidak boleh dilakukan. Pada tahapan ini ia bisa menaklukkan stres, yang menghampirinya setiap hari.


Written with stressed by Edhoy feat. Experd Consulting Group.

No comments:

Post a Comment