18 September 2010

Anak Jalanan

Cyberedhoy, J-Town
17.09.10


Jum'at sore itu (17/9) Gue 'nyetir sendirian dari Cilegon ke Jakarta, pas banget sama arus balik. Jalur lumayan ramai lancar karena blom banyak kendaraan dari arah Merak. H+2 setelah lebaran Gue masuk, blom banyak sih aktivitas di lapangan. Jadi pas weekend ini bukan jatah gue piket jadi ya pulang deh ke Jakarta.

Nah, pas hari Sabtunya Gue & Lydia jalan2. Pulangnya kita lewat jalur keluar tol Taman Mini. Di situ sih Gue hapal siapa aja anak jalanan yang suka 'ngamen. Berhubung udah malam, gue kaget juga ujug-ujug dua sosok tuyul nongol 'ngamen di samping gue. Sekilas jadi kayak penampakan Upin & Ipin. Tapi ini versi anak lampu merah. haha...aseli jadi 'ngakak kita, langsung aja Gue foto tuh dua bocah ingusan. Terus kita kasih nama "Jipin & Jupin". haha...Tega bener emak bapaknya biarin anaknya cari duit di remangnya malam yah.



Kota besar seperti Jakarta masih dipusingkan dengan persoalan anak jalanan. Menurut catatan terdapat sekitar 30.000 anak jalanan di Jakarta. Masalah anak juga menyangkut nasib bangsa ini ke depan. Sebagian besar usia anak jalanan berkisar antara 7-12 tahun yang notabene adalah usia wajib belajar. Usia seperti itu merupakan tahapan operasional konkret, di mana anak mulai dapat berpikir logis mengenai objek dan kejadian.

Apa saja yang dialami seorang anak di jalanan, merupakan norma yang tidak tertulis, juga nilai yang memang semestinya dilakukan. Yang berbahaya, kalau pengaruh negatif yang dikondisikan, maka hal negatif itu pula yang tertanam.

Teori belajar sosial menyatakan, seseorang mempelajari sesuatu dengan mengamati apa yang dilakukan orang lain. Melalui belajar mengamati, secara kognitif seseorang akan menampilkan perilaku orang lain dan mungkin kemudian meng-adopsi perilaku tersebut (model-ling). Artinya, semua perilaku yang dilakukan seseorang merupakan hasil mengamati perilaku orang lain. Faktor-faktor seperti perilaku, kognitif, pribadi lain dan lingkungan, akan bekerja secara interaktif sehingga satu sama lain saling mempengaruhi.

Jalanan menyimpan sejumlah aktivitas bernilai ekonomi. Enggak heran kalau di jalan anak-anak itu sanggup menyiasati kehidupan dengan menjadi tukang semir, pengasong, pengemis, pengamen, pengelap kaca mobil, dan sejenisnya. Para pengendara yang bisa juga dinamakan sebagai pemberi tampak tidak memedulikan nasib masa depan para anak jalanan.


Lepas dari itu masalah anak jalanan juga masalah bangsa ini. Karena itu pemimpin bangsa juga jangan tiba-tiba lupa atau memang pura-pura lupa sehingga penderitaan anak-anak jalanan terus berkepanjangan. Ayo, saatnya memberi senyum bagi bunga-bunga trotoar itu!



 Written & photos by Edhoy
© 2010 by Cyberedhoy Inc, Allrights Reserved

No comments:

Post a Comment