31 October 2010

Rumah Pasir

Cyberedhoy, J-Town
30.10.10

Malam Minggu kali ini, gue dan bini nonton produksi Teater Koma ke-120 si Komunitas Salihara, Pasar Minggu. Berangkat dari Cipayung waktunya udah mepet banget. Jam 7 malem baru cabut, padahal sampe sana mesti jam 7:30 karena registrasi ulang ambil tiket lagi.

Akhirnya sampe sana pas jam 7:30 malam, parkiran udah penuh, akhirnya kita Valet Parking. Terus lanjut registrasi, eh malah katanya pintu dibuka jam 8. AKhirnya kita liat-liat keliling Salihara. Tamu yang nonton ada beberapa yang kita kenal. Sayangnya mereka gak kenal kita. Haha...sebut aja om Hermawan Kertajasa yang sambil nunggu sempet jajan kuliner dan duduk di sebelah kita. Serunya lagi, pas di dalam kita dapet bangku deretan H. Pas sebelah Lydia duduk suami-nya Cornelia Agatha yang malem itu dapet peran jadi bu Dokter.

Sebelum masuk teater, kita ketemu sang Sutradara dan empu-nya teater koma. N Riantiarno, jadi deh sempetin foto bareng. Pas di dalam, ternyata penata musik untuk pagelaran ini si Ferro, band performance pas kawinan gue Agustus lalu. so damn cool, full sexaphone yang bikin merinding selama mengawal pagelaran ini.



Rumah Pasir. Lakon ini berkisah tentang seorang pengusaha muda petualang cinta, Leo Kastoebi (Budi Ros). Gaya hidupnya bebas, khas metropolitan. Dia terlibat asmara dengan banyak wanita. Dia tidak pernah memikirkan akibatnya, baik terhadap dirinya maupun orang lain.

Cukup dengan satu perbuatan berisiko, hidup bisa berubah drastis. Dan, terkadang, akibat dari perbuatan berisiko itu tidak hanya ditanggung oleh seorang saja. Lalu, bagi yang terlanjur tak mampu menghindar, hidup bagaikan `rumah pasir?. Setiap saat bisa tersapu ombak, lenyap tak berbekas. Masihkah ada harapan?


"Perlu keberanian untuk menanggung akibat perbuatan diri sendiri"
 
 
Written & photos by Edhoy
© 2010 by Cyberedhoy Inc, Allrights Reserved

No comments:

Post a Comment