05 March 2011

Sie Jin Kwie-2

Cyberedhoy, J-Town
05.03.11

Sabtu sore pulang gawe ceritanya gue mau langsung pulang ke Jakarta, maklum dari Cilegon unpredictable. Kadang macet luar biasa, kadang biasa-biasa aja. Lama perjalanan gak bisa diprediksi karena jalur tol Merak-Jakarta lagi banyak perbaikan di beberapa titik. Berhubung udah janjian sama bini mau nonton bareng Sie Jin Kwie part-2 di TIM, akhirnya abis mandi, jam 5 sore gue langsung tancap gas on the way pulang.

Jreeeng...jam tujuh malam kurang dikit ternyata gue udah parkir di pelataran XXI Taman Ismail Marzuki, nunggu Lydia dan Tole adiknya yang masih 'nge-bajaj, dan Heru adik gue yang masih gelantungan di busway. haha...berhubung lapar, yah gue sikat dulu Soto Sulung dari Lamongan yang ada di pujasera dekat parkiran depan TIM. Akhirnya tepat jam 7:30 malam pintu dibuka dan mereka datang hampir bersama, jadilah kita masuk bareng berempat dan duduk di bangku deretan J. Tenyata, kita bertujuh, ada temen-temen Lydia yang waktu nonton Sie Jin Kwie-1 tahun kemarin nonton lagi.

Kali ini produksi ke-122 menyambut 34 tahun Teater Koma di dunia hiburan Indonesia. Lakon yang diambil adalah karya Tio Keng Jian dan Loko An Chung berjudul Sie Jin Kwie Kena Fitnah. Ini adalah bagian kedua dari trilogi Sie Jin Kwie setelah pementasan bagian pertamanya tahun lalu yang ceritain pasukan dapur. Sebuah lakon epik dengan latar sejarah Dinasti Tang di Cina pada abad ke-7.
Sepuluh menit pertama diisi adegan kilas balik pakai medium Wayang Tavip”. Panggung wayang yang berasal dari nama dalangnya, menampilkan wayang aneka bentuk sesuai karakter yang diinginkan dan ditampilkan ke layar dengan tata cahaya sebegitu rupa sehingga penonton melihat bayangan wayang yang berwarna, beda dengan wayang tradisional yang siluetnya hanya hitam. Gue sempet bosen dan kuatir sepanjang pertunjukan cuma nonton ini, bukan teater dengan orang betulan. haha...tapi ini ada gunanya juga sih buat yang gak nonton bagian pertama, lagian lucu juga banyak gambar2 menyentil kebijakan pemerintah. Mulai dari salah bikin istana yang malah mirip Gedung DPR masa depan, ada wayang Gayus sang koruptor, sampe Nurdin Halid yang lagi ribut2 di PSSI. hahaha...

Ciri khas Teater Koma bisa dilihat dari kerumitan busana dan dekorasi panggungnya. Luar biasa detailnya! Busana para bangsawan terlihat begitu mewah lengkap dengan benang emasnya. Sementara panggung yang luas disulap menjadi berbagai setting dengan mengganti-ganti dekorasinya. Mulai dari istana megah hingga penjara kumuh tergambar dengan baik. Demikian pula properti lain seperti perlengkapan perang. Bahkan kuda untuk Raja Sou Po Tong dari Tartar Barat dan Panglima Besar Sie Jin Kwie dibuat khusus dari besi dalam ukuran sebenarnya.

Gak terasa sejam pertama gue sempet ketiduran, bangun-bangun pas udah mau break. Lanjut lagi sampe cerita kelar jam 11 malam lebih. Kira-kira jalan ceritanya begini...(dikutip dari detikhot.com karena gue males nulis,hehe).

Alkisah, seorang panglima perang Istana Tang bernama Sin Jin Kwie naik tahta. Ia mendapat berbagai fasilitas kerajaan, termasuk gelar raja muda. Jin dianggap berjasa karena beberapa kali menyelamatkan jiwa Raja Libisin dan negaranya dari serangan musuh. Istana yang megah, kiloan emas, juga para pengawal untuk melindungi istri dan putri Jin, Liu Kim Hwa dan Sie Kim Lian. Namun, ada yang iri dengan pencapaian karier Jin. Siapa? Tak lain anggota keluarga kerajaa, yakni paman dan bibi Raja Libisin yang meminmpin Kerajaan Tang.


Bie Jin dan suaminya Li To Cong iri karena Jin mendapatkan tahta, sedangkan dirinya tidak. Li To Cong hanya menjadi anggota keluarga kerajaan saja, namun yang pasti ia kebal hukum. Akhirnya Bie Jin dan suaminya merencanakan untuk menyingkirkan Jin. Ia di bantu oleh Thio Jin, seorang keturunan Thio yang dikenal licik dan jahat. Thio seharusnya sudah mati karena sebelumnya ada pembantaian massal terhadap orang-orang macam dirinya di Negeri Tang. Namanya dengan kelicikan dan kepintarannya, Thio pun lolos.


Thio lalu memberikan usulan untuk menjebak Jin. Tidak dibunuh, namun difitnah agar mati secara perlahan akibat siksaan batin. Rencana berjalan; Jin difitnah telah memperkosa putri Bie Jin dan Li To Cong. Putri Bie Jin yang berarti juga keponakan Raja Libisin itu yang disinyalir akan membuat seru jebakan Bie Jin dan suami. Jin akan dihukum mati!

Namun, baru mulai rencana, putri Bie Jin protes, mengapa harus dengan intrik dirinya akan diperkosa, meski tidak betulan? Tapi, Putri Bie Jin merasa itu akan menghancurkan citranya di mata rakyat Tang. Seumur hidup putri Bie Jin akan dicap sebagai perempuan yang pernah diperkosa dan sudah kehilangan keperawanan. Mau ditaruh di mana mukanya? Lebih baik mati daripada hidup tanpa kehormatan! Maka, bak senjata makan tuan, belum terlaksana rencana itu, Putri Bie Jin pun malah sudah keburu bunuh diri!

Bukannya sadar jika rencana Thio sudah merenggut nyawa anaknya, Bie Jin dan Li To Cong malah makin menjadi; mereka menyalahkan Jin telah menyebabkan anaknya tewas. Akhirnya fitnah pun bertambah, Jin telah memperkosa dan membunuh keponakan raja. Di tengah ancaman hukuman mati terhadap Jin. Singkat cerita Sie Jin Kwie selamat dari hukuman dan diaulat lagi jadi raja muda yang jadi jendral lapangan menghadapi serangan kerajaan Sou Pou Tong. Akhir cerita? biasalah 'ngegantung...biar lanjut ke trilogy Sie Jin Kwie yang ketiga tahun depan. hehe...

Sudah malam...segini dulu yah, byee...


Written & Photos by Edhoy

© 2011 Cyberedhoy Inc, Allrights Reserved. 
Reference : http://www.detikhot.com/read/2011/03/04/104635/1584423/1059/sie-jin-kwie-kena-fitnah-intrik-politik-zaman-china-klasik

No comments:

Post a Comment