21 January 2012

Cross Over Water to Singapore

Cyberedhoy, Singapore
22.01.12

Kali ini duo Nekad Treveler mencoba sensasi weekend di Singapore, negara luar paling dekat saat gue ditugaskan stay di Batam sebulan ini. So, pagi itu jam 8:30 kita udah ada di Pelabuhan penyeberangan ferry internasional di Batam Center. Sekitar 1 km dari hotel gue selama di Batam. Tepat sejam setelah gue jemput Lydia di bandara.

Sampai pelabuhan kita langsung ke counter tiket ferry BatamFast, niatnya beli yang jam 9:30, tapi ternyata ditawarin berangkat yang 8:30. Ya udin, langsung kita beli. Harga tiket resminya sih Rp 195,000 (pulang pergi) per orang. Berhubung kita belinya pake Dollar SIngapore, harganya dikasih S$ 27, kalo dirupiahin dengan kurs S$ 1 = Rp 7200, harganya jadi Rp 194,400. Beda tipis yak. Setelah itu kita sekalian boarding pass, dikasih exit dan entry permit setelah di cek passport-nya, baru antri di imigrasi.


Menyeberang lintas negara naik ferry baru pengalaman kita nih, jadi agak shock juga lihat banyaknya dan ribetnya urusan imigrasi. Kalau di Batam sih mending, kita antri enggak panjang dan di dalam ruangan. Tapi setelah perjalanan di atas air sejam, sampai di pelabuhan Harbour Front Singapore antrinya lebih sadis lagi. Mulai kita keluar kapal di jetty, sampe di dalam gedung. Dua jam kita antri panjang banget. Sompret!


Keluar dari imigrasi kita ada di Vivo Mall, jam udah tengah hari karena waktu di sana lebih cepat sejam dari Waktu Indonesia Barat (WIB), konon ini buat kepentingan bisnis SIngapore, menyamakan waktu dengan kota-kota besar di negara atasnya. Sama kayak Kuala Lumpur, Hongkong, Tokyo dan China bagian timur. Logikanya kok bisa yah ini wilayah kecil diantara Sumatra dan Kalimantan tapi waktunya sama dengan Bali dan Sulawesi yang Waktu Indonesia Tengah (WIT). Apa mereka berpikir lebih cepat sejam lebih pinter dari Jakarta ya? haha...

Indonesia Time Zone

Alasan beda waktu sejam mungkin karena sebelum abad ke-19 tiap orang menentukan waktu sendiri. Mereka tentukan pukul 12.00 adalah ketika Matahari tepat di atas daerahnya. Namun, dengan berkembangnya teknologi, orang berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat. Akibatnya, setiap saat orang harus mencocokkan jam penunjuk waktunya. Kondisi ini membuat tidak nyaman.

Tahun 1878 Sir Sanford Fleming mengusulkan suatu standar pembagian zona waktu. Dunia dibagi dalam 24 zona waktu. Tiap bergerak 15 derajat Bujur Timur, waktu bertambah satu jam. Dunia sepakat untuk menerima usulan ini, disertai dengan modifikasi-modifikasi tertentu. Cina, misalnya. Kalau mengikuti standar tadi, wilayah Cina dibagi dalam lima zona waktu, tapi Cina memilih untuk punya satu zona waktu saja. Begitu pula dengan Singapura yang memilih untuk satu jam lebih cepat dari WIB, walaupun letaknya agak di sebelah barat. Jadi, penetapan zona waktu ini tidak mengikat, yang penting kita semua sepakat. Kalau mau, Indonesia boleh-boleh saja membagi wilayahnya dalam satu zona waktu seperti Cina.


Written & Photos by Edhoy
© 2012 by Cyberedhoy Inc, Allrights Reserved

No comments:

Post a Comment