21 April 2012

Air Terjun Gila

Cyberedhoy, Lombok
21.04.12

Pagi itu kita berdua dijemput driver lokal yang mobilnya udah kita booking sehari sebelumnya. Nama driver-nya Eka, sama seperti yang punya travel. Kebanyakan di Lombok pengiat pariwisatanya berasal dari Bali, si Eka juga asli Bali, tapi orang tuanya sudah merantau ke Lombok dan dia lahir di Bali. Akhirnya kita berangkat dari Sheraton Sengigi tepat jam 9 pagi, tujuan utama ke Pegunungan Rinjani.

Perjalanan kita tempuh sekitar empat jam, sepanjang perjalanan kita menyisir pantai utara Lombok persis jalur sehari sebelumnya ke Gili Terawangan tapi 3x lebih jauh sampe gue lama-lama 'ngantuk. Sementara si Eka driver ramah aja jelasin ini itu dan pas jalan mulai berliku-liku menanjak gue terbangun. Ternyata sudah dekat.

Parkiran mobil wisatawan sampai di Pondok Senaru, dari situ kita pakai lokal guide. Harganya bervariasi, mulai 200rb - 300rb. Kok mahal? Menurut lokal guide-nya, wisata ke air terjun Sindang gila itu awalnya adalah inisiatif warga, jadi mereka juga pingin warga disitu merasakan dampaknya. Ikutan terbantu perekonomiannya dengan jadi lokal guide. Eniwei, biaya segitu belum termasuk tips untuk lokal guide yang mengawal kita ke lokasi air terjun lho.


Rencana kita hanya sampai ke dua air terjun yang berada di Desa Senaru, kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani ini. Pertama kita beli tiket seharga Rp 5,000,- di loket penjualan tiket masuk, terus berjalan kaki menuruni ratusan anak tangga untuk mengunjungi air terjun pertama yang disebut Sindang Gila.

Menurut Firman si lokal guide, nama Sindang Gila itu didapat ketika ada singa gila atau dalam bahasa setempat disebut sengang gila membuat keonaran di kampung. Warga beramai-ramai mengejar singa tersebut hingga ke dalam hutan hingga akhirnya menemukan air terjun. Sekilas air terjun tersebut bertingkat dua. Tapi kalau kita mengamati dengan seksama, hempasan air tidak langsung terjun ke bawah melainkan sedikit tertahan di tebing yang letaknya agak menjorok seperti membentuk kolam penampungan sementara. Ada juga yang langsung menceburkan diri begitu merasakan hempasan air yang segar dari air terjun yang berhulu di Danau Segara Anak Gunung Rinjani.

Kita disitu sempetin foto-foto dan melihat-lihat sekitar 10 menit, terus lanjut ke air terjun kedua Tiu Kelep. Perjalanan menuju air terjun tersebut membutuhkan waktu sekitar 40 menit (tergantung cepat/lambat loe berjalan), harus naik turun anak tangga curam tanpa pengaman di kiri kanan, melewati jembatan bolong mengikuti aliran irigasi yang tinggi banget, menyeberangi sungai yang berbatu kemudian dilanjutkan melintasi jalan setapak yang di kanan kirinya pepohonan yang rimbun dan sempit.


Kalo dibandingkan dengan Air Terjun Sindang Gila, Air Terjun Tiu Kelep lebih bagus dan hempasan airnya lebih besar. Ada mitos masyarakat sekitar, air di sekitar kawasan Tiu Kelep ini dapat menjadikan seseorang lebih muda satu tahun dari usia sebenarnya. Pantesan aja da turis nenek-nenek dari Belanda bela-belain pake kolor doang berendem disitu, berharap begitu selesai jadi cindrelela, eh gak taunya tetep aja kisut. haha...
Balik dari air terjun kedua sekitar 50 menit sampai ke loket pintu masuk. Energi udah terkuras habis, persediaan air minum udah menipis dan napas kembang kempis. hehe...capek banget meniti anak tangganya, sampe kita berhenti dulu beberapa kali. Sementara si Firman lokal guide cuek aja jalan gak kenal capek Seru banget wisata kehutan kali ini, kita diajak lebih bersahabat dengan alam. So, pastikan sebelum ke sini pada makan dulu minimal sejam sebelumnya, bawa air putih dan gak usah bawa tas berat/gede yang bisa susahin dalam perjalanan melintasi hutan.Wuih, gak kebayang kalo kita ketujuh air terjun yang ada, butuh waktu berapa hari tuh yah. hihihi...


Written & Photos by Edhoy
© 2012 by Cyberedhoy Inc, Allrights Reserved

No comments:

Post a Comment