15 June 2012

Profesional vs Karir

Cyberehoy, J-Town
19.06.12

Sebenernya gue punya istilah profesional untuk dua definisi judul di atas, istilah yang gue lihat dan alami sendiri. Sejak lulus kuliah 11 tahun lalu sampai saat ini gue resminya udah malang melintang di enam perusahaan yang pernah gue singgahi. Dari enam itu, tiga adalah perusahaan multinational yang bergerak di bidang EPCI (Engineering, Procurement, Construction & Installation), dua perusahaan Migas Asing dan satu perusahaan konsultan lokal.


Padahal waktu lulus dulu bayangannya adalah menjadi insinyur perminyakan yang profesional, artinya mendapatkan penghasilan berdasarkan bidang yang gue kuasai. Dalam pengertian gue itu kerja profesional ada dua jenis, dengan kompetensi yang bersifat generalis (cenderung lebih berorientasi pada specific job area) atau menjadi profesional dengan kompetensi yang bersifat spesialis (cenderung lebih berorientasi pada specific job task).

Mungkin gue lebih terjebak di dua istilah itu, spesifik pekerjaan pada tugas yang di spesifik area. Celakanya lagi area disini lebih ke lokasi kerja yang buat orang awam enggak biasa. Misalnya harus bertugas di daerah tertentu yang gak ada di peta dalam jangka waktu cukup lama. Gak berinteraksi dengan keluarga dan gaul dengan dunia luar. Apalagi, kalau yang namanya project EPCI yang install platform-nya aja di tengah laut. Gubrak!

Setelah 22 bulan berumah tangga mulai deh bergeser orientasinya, mulai belagu nolak-nolak tawaran ke daerah padahal menurut orang awam itu tawaran bagus karena dari dua oil company besar. Banyak orang sampe mimpi-mimpi pingin kerja di migas hanya biar di lihat keren, gaji gede dan gengsi tinggi. Tapi di sini lah gue harus memilih, keluarga apa kerjaan itu.


Trend sekarang sepertinya tenaga spesialis dibutuhkan oleh perusahaan, karena sudah bukan masanya lagi mengharapkan pegawai bisa melakukan “multitasking”, tapi kinilah masanya mempekerjakan para profesional yang memang menguasai satu bidang yang betul-betul menjadi minatnya. Makanya selama ada waktu di Jakarta ini gue sambil ikutan training lagi, belajar spesific job task apa aja sih yang diperluin sebagai bekal kalau jadi pegawai kantoran di matrepolitan lagi, hihi...

Eniwei, kerja di Jakarta artinya ikut merasakan hiruk pikuk ibukota, bangun lebih pagi, berangkat paling pagi karena rumah gue paling ujung timur Jakarta, sampe kantor juga masih pagi. Eiiit, sampe sini perlu dijelasin dulu. Kalo gue keluar rumah jam 5:30 pagi, itu artinya bisa sampe kantor jam 6:45 sebelum 3in1 di kawasan Sudirman. Tapi kalo gue meleset jam 6 pagi baru berangkat, sampe kantor bisa jam 8 pagi. Karena harus muter dulu cari jalan non 3in1. Jadi, kalau telat berangkat 30 menit saja, bisa dipastikan bakalan lost time karena macet 1 - 2 jam di Jakarta.

Nah, kalo bawa mobil ke kantor yang mesti parkir 9-10 jam, itu bisa kena biaya parkir sekitar 20ribu. Belum toll pp, makan siang dan bensin. Sehari paling gak 100rb buat transport aja. Naik angkot? busyet, jangan harap on time. Gubrax!!

Kalau bicara karir, mungkin lebih jelas obrolnya sama orang manajemen nih, biasanya mereka lebih enak di zona 'nyaman, biasa di kantoran, kerjain sesuatu yang ga jelas, punya ide bagus bisa naik cepet karir-nya, miskin ide ya gitu-gitu aja karirnya, gak aktif yang penting digaji dan masih aman. hehe...dan umumnya kalau orang karir jalurnya permanen, enggak seperti profesional yang kutu loncat dan hinggap dimana ada yang mau bayar lebih mahal.


Written & Photos by Edhoy
© 2012 by Cyberedhoy Inc, Allrights Reserved

No comments:

Post a Comment