29 December 2012

Weekend di Malioboro

Cyberedhoy
29.12.12

Sabtu malam kali ini kebetulan gue ada di seputaran Malioboro, setelah sekian lama ke daerah ini ya baru kali ini ditemani istri. Lha, maklum sih, dulu kan kalo mampir ke Malioboro masih single tuh. hehe...Hari ini tepat dua hari sebelum Tahun Baru, jadi Yogya macet banget. Terutama di sepanjang Malioboro, dari pagi sampe malem kendaraan silih berganti antri. Sebenernya sih pas di perempatan depan kantor pos itu lancar lho, entah kenapa mungkin karena jalur mobil yang udah dibuat satu arah itu tetap aja tidak menampung lautan manusia yang berhimpitan jalan di sepanjang koridor toko-toko dan meluber tumpah ruah di jalanan jalur becak dan andong.


Ciri khas Yogya tetap terjaga sih meskipun sudah gak semurni puluhan tahun lalu. Musisi jalanan juga masih gemar beratraksi, malah semakin lengkap dengan beberapa group musisi lokal mengisi jalur pejalan kaki dan berhimpitan dengan becak dan andong. Mereka dengan ekspresi dan cueknya menyanyi diiringi orkes jalanan lengkap dengan seragam dan alat musiknya.

Seru, jelas buat sebagian warna luar Yogya ini adalah atraksi yang jarang dilihat di kota-kota lain yang memang melegenda sampai tertulis di lagunya Kla Project yang Yogyakarta itu lho. hehe...'musisi jalanan mulai beraksi...' dengan atribut alat musik tradisional menghibur siapa saja yang lewat disekitar Malioboro pada malam hari.

 

Sepanjang jalan Malioboro adalah penutur cerita bagi setiap orang yang berkunjung di kawasan ini, menikmati pengalaman wisata belanja sepanjang bahu jalan yang berkoridor (arcade). Dari produk kerajinan lokal seperti batik, hiasan rotan, wayang kulit, kerajinan bambu (gantungan kunci, lampu hias dan lain sebagainya) juga blangkon (topi khas Jawa/Jogja) serta barang-barang perak, hingga pedagang yang menjual pernak pernik umum yang banyak ditemui di tempat lain. 

Pengalaman lain dari wisata belanja ini ketika terjadi tawar menawar harga, dengan pertemuan budaya yang berbeda akan terjadi komunikasi yang unik dengan logat bahasa yang berbeda. Jika beruntung, bisa berkurang sepertiga atau bahkan separohnya. Tak lupa mampir ke Pasar Beringharjo, di tempat ini kita banyak dijumpai beraneka produk tradisional yang lebih lengkap. Di pasar ini kita bisa menjumpai produk dari kota tetangga seperti batik Solo dan Pekalongan. Mencari batik tulis atau batik print, atau sekedar mencari tirai penghias jendela dengan motif unik serta sprei indah bermotif batik. Tempat ini akan memuaskan hasrat berbelanja barang-barang unik dengan harga yang lebih murah. Berbelanja di kawasan Malioboro serta Beringharjo, pastikan tidak tertipu dengan harga yang ditawarkan. Biasanya para penjual menaikkan harga dari biasanya bagi para wisatawan.

Malioboro terus bercerita dengan kisahnya, dari pagi sampai menjelang tengah malam terus berdegup mengiringi aktifitas yang silih berganti. Tengah malam sepanjang jalan Malioboro mengalun lebih pelan dan tenang. Warung lesehan merubah suasana dengan deru musisi jalanan dengan lagu-lagu nostalgia. Berbagai jenis menu makanan ditawarkan para pedagang kepada pengunjung yang menikmati suasana malam kawasan Malioboro.  


Setelah melewati Malioboro, di perempatan terdapat bangunan-bangunan bersejarah menjadi penghuni tetap kawasan nol kilometer yang menjamu ramah bagi pengunjung yang memiliki minat di bidang arsitektur dan fotografi. Kantor Pos, kantor BNI 46, Istana Kepresidenan dan Museum Benteng Vredeburg di sudut-sudut perempatan ini jadi icon sejarah di Yogya. Kalau berjalan terus pun kita akan menemui alun-alun dan Keraton Yogyakarta.



Written & Photos by Edhoy
© 2012 by Cyberedhoy Inc, Allrights Reserved

No comments:

Post a Comment