29 June 2013

Monas Meriah ada Ariah

Cyberedhoy, Jakarta
29.06.13

Weekend kali ini, kita jalan-jalan ke Monas. Kali ini buat nonton Ariah...cukup panjang perjalanan ke sana kalau loe pikir daerah sana bakalan macet total. Yup, itu beneran bukan sulap bukan sihir. Seputaran monas weekend kali ini macet dikala pagelaran ini. Tapi kok gue bisa ke sana dengan lancar dan aman? Begini ceritanya...

Menyambung cerita di tulisan sebelumnya di bawah, sepulang dari Grand Indonesia sore itu jam sudah menunjukkan pukul enam sore, sementara Ariah ini mulai jam 7:30 malem. So, awalnya kita mau parkir mobil aja di GI, terus naik busway ke Monas. Tapi si Russel kepingin ikutan lihat Monas katanya, jadilah kita mendadak menerobos kemacetan diseputaran Bunderan HI. Selepas itu jalan masih lancar sampai depan Thamrin, setelah Patung Kuda, kita puter balik karena lihat arah monas sudah jadi tempat parkir dadakan.

Akhirnya gue nekat masuk Kantor Kementrian ESDM, berbekal nekat sebagai alumni TP, akhirnya nego sama Komandan Jaga Security dikasih ijin. Jadilah kita jalan kaki ke Monas 100m. Setelah itu emang dasar lagi mujur, langsung naik Kereta Mobil khusus untuk jemput undangan nonton Ariah dari depan Gerbang Monas sampai ke pintu masuk area pagelaran ini. Lewatin backdrop tentu saja sekalian narsis foto-foto mumpung masih sepi. Akhirnya kita duduk di deretan paling depan Kelas 2. Asyik kan :)

Pokoke, ulang tahun Jakarta ke-486 kali ini semakin meriah dengan adanya drama musik kolosal Ariah di Monas yang digelar tiga hari mulai 28 - 30 Juni 2013. Panggung raksasa dengan sudut kemiringan 30 derajat juga tidak seperti biasanya.

Inilah arena pertunjukan bagi 200 penari yang melenggokkan gerak dan lagu dengan iringan orkestra yang dibawakan 120 musisi. Hasil kerja sama mengagumkan dari sutradara dan penulis naskah Atilah Soeryadjaya, penata artistik Jay Soebyakto, penata music Erwin Gutawa, serta koreografer Eko Supendi dan Wiwiek Sipala.

Dalam tulisannya yang dimuat di buku acara, Jay menggambarkan sosok Ariah sebagai, “Perempuan Betawi yang hidup pada 1860-an yang berjuang demi membela kehormatan dan harga dirinya.” Begitu gigihnya, hingga Ariah dijadikan simbol perlawanan terhadap penindasan dan pengkhianatan atas kaumnya, bahkan bangsanya.

Dikisahkan, pada era kolonial Belanda, rakyat semakin menderita akibat perlakukan semena-mena kaum penjajah dan tuan tanah. Dengan kesadaran, Ariah mengajak teman-temannya berjuang menumpas penindasan di wilayah Batavia. Berbekal ilmu silat yang dikuasainya, Ariah mempertahankan martabat dan kehormatannya.


Lebih dari satu setengah abad berlalu, sosok Ariah tetap melegenda. Sebagaimana disampaikan Atilah di buku acara, “Cerita Ariah mengandung banyak makna yang menembus batas ruang dan waktu. Keberaniannya melawan keadaan, penindasan oleh para penguasa yang terjadi kala itu sungguh sangat terasa keterkaitannya dengan ruang dan waktu pada masa kini.”

Tokoh Ariah diperankan oleh Ida Sunaryono. Penari berdarah Jawa ini mengakui adanya persamaan karakter antara dirinya dan Ariah yang sama-sama “tegas, tidak takut tantangan, berani, suka bela diri, dan usil.” Dalam sebuah adegan, dengan lantang, ia menyenandungkan bait, “Kan kulawan kesengsaraan, penindasan, kemurkaan. Semangat tuk masa depan.”

Di pertengahan paggelaran ini muncul tiga pembanyol ala Betawi yang lucu dan menghibur nih, kocak dan seru abis deh nih...sukses era Jokowi yak, pas hari itu dia nonton pula, duduk di bawah alias Lesehan.


Written & Photos by Edhoy
© 2013 by Cyberedhoy Inc, Allrights Reserved

No comments:

Post a Comment