31 July 2014

'Ngupi di Tanamera Coffee Roastery

Cyberedhoy, J-Town
31.07.14

Hari ini pas dua hari setelah usai lebaran di tahun ini, kala sebagian besar masyarakat Jakarta sedang mudik, kita menjajal jalanan Jakarta yang ternyata sangat ideal apabila hanya dihuni 1/3 jumlah penduduk sekarang. Jarak tempuh Cipayung ke Bunderan HI sekitar 20KM, hanya ditempuh selama 25 menit. Tujuan pertama kita ke Tanamera, kedai kopi yang sedang happening yang berada di Thamrin City Office Park. Tepatnya di Jalan Kebon Kacang Raya di belakang Thamrin City Mall.

Ternyata pas kita sampai sana, gak sengaja ketemu Devi temannya Lydia yang rumahnya kita datangin dua bulan lalu di Puri Gading. Usut punya usut ternyata mereka sedang mengamati penampakan kedai-kedai kopi yang happening karena mau buka bisnis kopi juga. hehe...

Oh ya, Tanamera Coffee ini yang punya orang Australia, namanya Aidan Broderick  dia pakai kopi-kopi lokal Indonesia macam dari Aceh, Flores dan Papua. Tanamera itu ternyata ya maksudnya tanah merah, itu refleksi dari kesuburan tanah Indonesia yang menumbuhkan kopi-kopi terbaiknya. 


Hari ini kita beruntung karena Aidan ada di sana, dia lagi beraksi di depan boutiqe mesin espresso, yang biasanya dia lakukan dua kali seminggu. Nah, kalau obrol sama dia ajak aja omongin barista atau tanya-tanya roasting, dia kalau gak sibuk pasti 'ngeladenin. Buktinya, Lydia bisa dengan PeDe malah nawarin jadi pemasok biji-biji kopi dari Toraja. haha...

http://www.cikopi.com/2014/02/tanamera-dan-aidan-broderick/

Kalau loe perhatiin nih di layar monitor mesin espresso itu ada kalimat 'the difference is in the detail', sepertinya itu gak salah juga sih. Bayangin aja, dari harga segelas sama dengan Starbuck, loe bisa dapetin kopi dengan sensasi yang eksotis sampai mau minumnya aja keliatan sayang. Kali ini gue sih cobain Affogato, secangkir kecil expresso disiram ke tumpukkan ice cream vanilla yang disajikan eksotis dengan wadah kecucut terbalik di atas biji-biji kopi. Rasanya sadislah, melted dengan sensasi yang strong but smooth.

Nah, kalau Lydia sih cobain Mocha Latte dengan topping/art throw hiasan daun cinta berbentuk love. Dan ternyata, chef peracik ini bukan orang sembarangan juga nih. Namanya Aga Borock, dia ini pemenang Latte Art Throw di Bandung, Singapore, Bali dan belahan dunia lain.


Nah, berhubung kedai ini tidak terlalu besar, mungkin cukup sekitar 15 orangan lah kalau di dalam, di bagian teras sih kalau gak hujan/terlalu panas lumayan rame juga. Pengunjung gak hanya orang lokal, orang bule pun banyak. Waiters-nya pun ramah-ramah dan asyik diajak 'ngobrol. So, tempat ini biar pun kecil tapi mengajarkan sesuatu buat penikmat kopi "small with attitude".

'Gak bawa tongsis, jadi foto bareng pakai bantuan Tongbro (tolongin dong masBro)... #salahfokus

Lydia lagi menginterview si owner yang sibuk dengan mesin roaster-nya yang segede gaban :)




Written & Photos by mazEdhoy
© 2014 by Cyberedhoy Inc, Allrights Reserved

No comments:

Post a Comment